Potensi-potensi EBT di pulau Sumba

  1. Micro-Hydro

Pulau Sumba berpotensi menghasilkan 10,2 MW listrik tenaga air. Hasil Studi Potensi yang diluncurkan ADB Desember 2015 lalu mengidentifikasi 300 lokasi yang berpotensi dikembangkan sebagai lokasi mini grid berbiaya rendah. Hasil ini kemudian disaring menjadi 100 lokasi yang berdekatan jaraknya (1 km); hanya 40 dari 100 lokasi ini memiliki debit air terbaik dan dekat dengan kawasan pemukiman. Empat puluh lokasi ini tersebar di 22 desa di Sumba Timur, Sumba Barat dan Sumba Barat Daya.  Berdasarkan hasil studi tahap kedua, teridentifikasi 5 lokasi yang sangat berpotensi untuk pengembangan PLTMH mini grid yang tersebar di Desa Pulu Panjang, Karita, Pabera Manera, Pondok, dan Waikanabu.

Kajian Keuangan

Deskripsi Pulu Panjang Karita Pabera Manera Pondok Waikanabu
Potensi pelanggan (KK) 128 90 155 100 90
Potensi listrik (kw) 35 40 50 25 30
Biaya investasi (Rp juta) 1,890 2,160 2,700 1,350 1,620
Produksi listrik (Kwh/bulan) 8,820 10,008 12,600 6,300 7,560
Pendapatan (Rp juta/bulan) 6,175 7,056 8,820 4,410 5,292
Biaya operasional & perawatan (Rp/bulan) 3,700 4,233 5,292 3,080 3,175
Pendapatan bersih (Rp juta/bulan) 2,365 2,823 3,528 1,330 2,116

Potensi Resiko

  • Melesetnya biaya rencana investasi akibat tantangan logistic (kondisi jalan yang buruk)
  • Kemampuan dan kemauan membayar masyarakat
  • Penyedia jasa dan pemasok peralatan pengembangan PLTMH setempat sangat minim
  • Dibutuhkan izin dari pemerintah daerah, dan hal ini butuh waktu yang lama karena harus dibahas dan disetujui DPRD provinsi NTT
  1. Bendungan Pembangkit Listrik (Hydro Storage)

Sumba berpotensi menghasilkan 8,5 MW tenaga listrik melalui pengembangan bendungan pembangkit listrik. Hasil Studi Potensi yang diluncurkan ADB Desember 2015 lalu mengidentifikasi tiga daerah aliran sungai terbesar yang dekat dengan jaringan PLN: Sungai Memboro di Praikalala dan Sungai Kadahang. Biaya investasi pengembangan berkisar antara US$ 11,56 juta – US$  16,39 juta untuk Memboro, dan US$ 20,08 juta – US$ 35,24 juta untuk Kadahang; tergantung tinggi bendungan apakah 12,5 meter atau 25 meter.

Angin

Sampai 2025, kawasan Hambapraing di pulau Sumba berpotensi menghasilkan aliran listrik bertenaga angin sebesar 10 MW yang dapat dipasok dengan menggunakan 12 turbine berkapasitas 0,85 MW. Biaya pengembangan energi angin diperkirakan antara US$ 21,40 juta hingga US$ 23,49 juta, tergantung pilihan spesifikasi teknis yang diinginkan. Untuk kepentingan jangka panjang, hal ini lebih murah dari biaya penggunaan diesel. Serapan angin tidak dibatasi oleh sumber daya atau biaya persaingan teknologi, namun lebih dipengaruhi kemampuan jaringan untuk menyerap hasil produksi. Biaya terendah pengembangan pembangkit listrik tenaga angin ini berdasarkan asumsi bahwa kapasitas angin tidak melebihi 25% dari puncak permintaan sistem. Permintaan sistem puncak saat ini adalah sekitar 11 MW dengan 15% rasio elektrifikasi jaringan. Untuk 10 tahun kedepan, diperkirakan hal akan tumbuh menjadi sekitar 40 MW jika target 95% rasio elektrifikasi tercapai.

Saat ini Kemeneterian ESDM sedang mengembangkan kebijakan tariff untuk energy angin. Tarif yang ditetapkan untuk pulau-pulau di Indonesia Timur adalah US$ 28 sen/kWh. Kebijakan dan peraturan yang ada saat ini mengharuskan PLN untuk melakukan studi integrasi jaringan guna menentukan tingkat penetrasi energy angin. Para pengembang usaha yang berminat investasi dalam bidang ini wajib melakukan minimal 1 tahun upaya pengukuran tenaga angin.

Potensi keberhasilan pengembangan PLT Angin adalah sebagai berikut:

  • Peningkatan kebutuhan: dari 10MW di 2015 menjadi 40MW di 2025
  • Inter-koneksi jaringan antara Sumba Barat dan Sumba timur dengan 70kV atau lebih voltase yang lebih tinggi

Tenaga Surya

Sebagai daerah tropis, pulau Sumba memiliki rata-rata pancaran sinar surya sebesar 5kWh/m2/ hari, dimana matahari bersinar selama 5 jam sehari dengan radiasi sebesar 1000 Watt / m2. Dengan luas 11,153km2,  potensi energi surya dapat dikembangkan sebesar 10 MW.

Secara teknis, hampir semua lokasi di Sumba layak untuk menggunakan system instalasi PLTS baik yang dipasang secara perorangan seperti PLTS tersebar ataupun PLTS melalui jaringan listrik tersambung. Hal ini dimungkinkan karena  semua lokasi di Sumba memiliki insolasi/pancaran matahari yang baik.